BerandaDaerahDari Tradisi ke Transformasi: Menyalakan Kembali Ruh Gerakan PMII Banyuwangi

Dari Tradisi ke Transformasi: Menyalakan Kembali Ruh Gerakan PMII Banyuwangi

- Advertisement -spot_img

INDOSNAP – Sejak berdirinya pada 17 April 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir dari semangat mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) untuk menyatukan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. PMII bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah ruang belajar, tempat kita menempa diri menjadi manusia yang berpikir kritis sekaligus berjiwa sosial.

Dalam sejarahnya, PMII hadir sebagai wadah pengabdian tempat menyeimbangkan akal dan nurani, berpikir dengan nalar tanpa kehilangan arah spiritual. Di Banyuwangi, PMII tumbuh bersama denyut kehidupan kampus dan masyarakat. Dari diskusi di warung kopi hingga gerakan sosial di lapangan, PMII Banyuwangi selalu menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan sosial mahasiswa.

Namun, zaman terus berubah. Dunia digital bergerak cepat, mengubah cara kita berpikir, berinteraksi, bahkan berjuang. Ruang-ruang diskusi yang dulu ramai kini mulai sepi. Idealisme perlahan tergeser oleh pragmatisme, dan gairah intelektual mulai meredup di tengah rutinitas administratif.

Pertanyaan yang sering muncul di forum maupun obrolan santai adalah: apakah PMII Banyuwangi masih menjadi pelaku sejarah, atau justru mulai kehilangan arah gerakannya di tengah arus modernitas?

Edgar H. Schein pernah menegaskan bahwa kekuatan organisasi terletak pada harmoni antara artefak, nilai, dan asumsi dasar yang dihidupi bersama. Di titik inilah PMII Banyuwangi perlu menata diri. Kita punya banyak simbol, jargon, dan tradisi — tapi semua itu hanya bermakna jika tetap berakar pada nilai-nilai yang kita perjuangkan: tasamuh, tawassuth, tawazun, dan i’tidal. Nilai-nilai ini bukan sekadar kutipan dalam sambutan, tapi napas yang menggerakkan setiap langkah kader.

BACA JUGA:  Tahun ini Banyuwangi Kembali Terima Program TORA, Luasanya 163,67 hektare

PMII Banyuwangi juga harus hadir lebih nyata di tengah kehidupan masyarakat. Banyuwangi hari ini memang dikenal karena pariwisatanya yang maju pesat. Tapi di balik pesona itu, ada sisi lain yang tak boleh kita abaikan: luka ekologis di Tumpang Pitu, ruang hidup nelayan yang makin sempit, hingga alih fungsi lahan yang terus menggerus keseimbangan alam. Ini bukan hanya persoalan lingkungan, tapi persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial.

PMII tidak cukup hadir lewat wacana. Kita harus hadir lewat tindakan nyata  advokasi, pendampingan masyarakat, dan keberpihakan terhadap yang lemah. Sebab teori sosial dan nilai keadilan hanya akan bermakna jika diwujudkan dalam langkah konkret di tengah rakyat.

Tantangan kita ke depan tidak ringan. Ada tiga hal besar yang harus kita hadapi bersama: krisis identitas, menurunnya gairah intelektual, dan melemahnya basis sosial gerakan. Dalam dunia yang serba instan, banyak kader muda kehilangan arah nilai. Karena itu, kaderisasi harus kembali menjadi fondasi utama  tempat kita menanamkan nilai, membentuk cara berpikir, dan menumbuhkan kepekaan sosial.

BACA JUGA:  Ribuan Warga Desa Temurejo Banyuwangi Gelar Selamatan Ingkung Sewu, Syukuran Terima Sertifikat Program Tora

Konsep/model kaderisasi kedepan harus berlapiskan :

  1. Ideologis, untuk meneguhkan nilai Aswaja dan komitmen kebangsaan.
  2. Intelektual, agar budaya literasi, riset, dan berpikir kritis kembali hidup.
  3. Sosial, agar kader turun ke masyarakat melalui advokasi dan pemberdayaan.
  4. Digital, supaya kader mampu berjuang di ruang maya dan menguasai teknologi.
  5. Profesional, untuk membekali kader berdasarkan kemampuan, keterampilan dan kebutuhan zaman.

Dengan fondasi ini, kita tidak hanya mencetak kader baru, tapi membangun regenerasi visioner — kepemimpinan yang tumbuh dari pengalaman, dedikasi, dan kejujuran berjuang. Pemimpin PMII Banyuwangi ke depan bukan hanya pengatur struktur, tapi penuntun arah gerakan. Pemimpin yang mau mendengar, bukan hanya berbicara; yang membangun kepercayaan, bukan sekadar menjaga jabatan.

Kita perlu menata ulang arah gerakan agar tidak terjebak dalam formalitas. PMII Banyuwangi harus kembali ke substansi: berpikir kritis, berjuang dengan nilai, dan mengabdi untuk kemanusiaan. Budaya literasi dan diskusi harus dihidupkan lagi. Riset dan advokasi berbasis realitas lokal harus digerakkan untuk menjawab persoalan rakyat.

Kolaborasi juga penting dengan pesantren, lembaga masyarakat, dan pemerintah daerah. PMII Banyuwangi harus menjadi mitra strategis pembangunan, bukan berarti tunduk, tapi hadir memberi arah, kritik, dan solusi. Dari sanalah nilai-nilai Aswaja benar-benar hidup di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  Akses Pelabuhan Penyeberangan Ketapang Banyuwangi kembali Tersendat, Ratusan Sopir Angkutan Logistik Demo

Penulis percaya, PMII Banyuwangi memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium gerakan mahasiswa Islam yang progresif dan berpengaruh. Potensi itu tidak terletak pada jumlah kader semata, tetapi pada kekayaan tradisi intelektual dan semangat sosial yang kita miliki. Namun, potensi itu hanya akan berarti jika kita punya kesadaran dan keberanian untuk berubah.

Regenerasi visioner dan kepemimpinan berkelanjutan bukan soal siapa yang memimpin setelah ini, tapi tentang bagaimana ruh gerakan tetap hidup. Kita ingin setiap kader PMII tumbuh menjadi pribadi yang bernilai dalam sikap, kritis dalam berpikir, tangguh dalam bertindak, unggul dalam karya, dan berdaya di tengah masyarakat.

Sebab pada akhirnya, PMII bukan hanya tempat kita belajar berorganisasi. Ia adalah tempat kita belajar menjadi manusia yang berpikir, bernilai, dan bermakna. Dari sinilah perjuangan kita menemukan arah arah yang membawa perubahan, bukan hanya bagi organisasi, tapi juga bagi masyarakat dan kemanusiaan yang lebih luas.

Penulis : Haikal Roja’ Hasbunallah

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini