BerandaPemerintahanAksi Sosial, DPRD Banyuwangi Bagikan Nasi Kotak kepada Driver Angkutan Logistik yang...

Aksi Sosial, DPRD Banyuwangi Bagikan Nasi Kotak kepada Driver Angkutan Logistik yang Terjebak Macet di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang

- Advertisement -spot_img

INDOSNAP – Kemacetan panjang yang kembali terjadi di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mendapat perhatian serius dari DPRD Banyuwangi. Tidak hanya melakukan pemantauan langsung, para wakil rakyat juga turun ke lapangan membagikan nasi kotak kepada para sopir truk yang terjebak antrean panjang, Rabu (25/06/2026).

Aksi sosial tersebut dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, didampingi Sekretaris Komisi IV Ratih Nur Hayati, ST, bersama anggota Dr. Zaki Al Mubarok, M.Si, Yusieni, Umi Kulsum, Suwito, serta Dra. Hj. Nunuk Sri Rahayu, M.M.

Rombongan wakil rakyat Bumi Blambangan ini menyusuri area parkir dan jalur antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang. Mereka mendatangi satu per satu sopir truk yang telah berjam-jam menunggu giliran menyebrang menuju Pulau Bali. Selain menyerahkan nasi kotak, para politisi juga berdialog langsung untuk mengetahui kondisi yang dialami para pengemudi.

Beberapa sopir mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sejak dini hari untuk bisa masuk ke area pelabuhan. Salah seorang sopir menyebut dirinya mulai mengantri sejak pukul 03.00 WIB di buffer zone dan baru bisa masuk ke area parkir pelabuhan sekitar pukul 12.00 WIB.

BACA JUGA:  Pansus II DPRD Banyuwangi Lakukan Penyempurnaan Raperda Inisiatif Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

Kondisi tersebut membuat Komisi IV DPRD Banyuwangi merasa prihatin. Patemo mengatakan, kemacetan yang berulang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang harus segera mendapatkan solusi konkret dari seluruh pihak terkait.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para sopir. Mereka harus menunggu berjam-jam di tengah antrian panjang. Ini tidak boleh terus terjadi dan harus segera dicarikan jalan keluarnya,” ujar Patemo.

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian DPRD adalah keterbatasan kapasitas dermaga yang dinilai belum mampu mengakomodasi tingginya arus kendaraan, terutama kendaraan bertonase besar.

Akibat kapasitas yang terbatas, banyak kendaraan harus tertahan di buffer zone sebelum akhirnya dapat memasuki kawasan pelabuhan. Situasi tersebut kemudian memicu antrean panjang yang kerap meluber hingga ke jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang.

BACA JUGA:  Jawaban Fraksi-Fraksi DPRD Banyuwangi atas Tanggapan Bupati Terhadap Dua Raperda Inisiatif Dewan

Patemo menilai peningkatan kapasitas dermaga menjadi kebutuhan mendesak. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kendaraan besar dapat langsung terlayani tanpa harus menunggu terlalu lama di area penampungan.

“Kalau kapasitas dermaga ditingkatkan, kendaraan besar tidak perlu berputar atau menunggu terlalu lama. Ini akan mengurangi antrean yang selama ini sering terjadi di depan area penyeberangan,” katanya.

Selain mendorong penambahan kapasitas dermaga, DPRD Banyuwangi juga meminta percepatan pembangunan dan peningkatan fasilitas pelabuhan secara menyeluruh.

Langkah tersebut dinilai penting agar kemacetan serupa tidak kembali terjadi saat puncak mobilitas masyarakat, termasuk pada musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

Tak hanya infrastruktur fisik, sistem tiket penyeberangan juga menjadi perhatian. Komisi IV DPRD Banyuwangi meminta adanya penyempurnaan sistem ticketing agar proses pelayanan lebih sederhana, efektif, dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan akibat kendala administrasi.

BACA JUGA:  Komisi III DPRD Banyuwangi Dorong Eksekutif Optimalkan Pemanfaatan Aset Daerah untuk Dongkrak PAD Tahun 2026

Patemo juga menegaskan perlunya perhatian serius dari Kementerian Perhubungan dan pemerintah pusat terhadap konektivitas Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Menurutnya, pengembangan fasilitas di kedua pelabuhan harus dilakukan secara berimbang agar kapasitas layanan penyeberangan dapat berjalan optimal.

“Percuma kapal banyak kalau tempat sandarnya tidak cukup. Karena itu harus ada sinkronisasi antara Ketapang dan Gilimanuk, baik jumlah dermaga maupun kapasitas pelayanannya,” tegasnya.

Saat ini, Pelabuhan Ketapang memiliki sembilan dermaga, sedangkan Pelabuhan Gilimanuk hanya memiliki tujuh dermaga. Ketimpangan kapasitas tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mengurai kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus logistik maupun penumpang di lintasan penyeberangan Jawa-Bali.(ydi)

- Advertisement -spot_img
spot_img
spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

INDOSNAP – Kemacetan panjang yang kembali terjadi di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mendapat perhatian serius dari DPRD Banyuwangi. Tidak hanya melakukan pemantauan langsung, para wakil rakyat juga turun ke lapangan membagikan nasi kotak kepada para sopir truk yang terjebak antrean panjang, Rabu (25/06/2026).

Aksi sosial tersebut dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, didampingi Sekretaris Komisi IV Ratih Nur Hayati, ST, bersama anggota Dr. Zaki Al Mubarok, M.Si, Yusieni, Umi Kulsum, Suwito, serta Dra. Hj. Nunuk Sri Rahayu, M.M.

Rombongan wakil rakyat Bumi Blambangan ini menyusuri area parkir dan jalur antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang. Mereka mendatangi satu per satu sopir truk yang telah berjam-jam menunggu giliran menyebrang menuju Pulau Bali. Selain menyerahkan nasi kotak, para politisi juga berdialog langsung untuk mengetahui kondisi yang dialami para pengemudi.

Beberapa sopir mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sejak dini hari untuk bisa masuk ke area pelabuhan. Salah seorang sopir menyebut dirinya mulai mengantri sejak pukul 03.00 WIB di buffer zone dan baru bisa masuk ke area parkir pelabuhan sekitar pukul 12.00 WIB.

BACA JUGA:  Fraksi - Fraksi DPRD Banyuwangi Sampaikan Pandangan Umum atas Diajukannya Raperda Perubahan APBD 2024

Kondisi tersebut membuat Komisi IV DPRD Banyuwangi merasa prihatin. Patemo mengatakan, kemacetan yang berulang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang harus segera mendapatkan solusi konkret dari seluruh pihak terkait.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para sopir. Mereka harus menunggu berjam-jam di tengah antrian panjang. Ini tidak boleh terus terjadi dan harus segera dicarikan jalan keluarnya,” ujar Patemo.

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian DPRD adalah keterbatasan kapasitas dermaga yang dinilai belum mampu mengakomodasi tingginya arus kendaraan, terutama kendaraan bertonase besar.

Akibat kapasitas yang terbatas, banyak kendaraan harus tertahan di buffer zone sebelum akhirnya dapat memasuki kawasan pelabuhan. Situasi tersebut kemudian memicu antrean panjang yang kerap meluber hingga ke jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang.

BACA JUGA:  Peringkat Poprov Jatim IX 2025 Turun, DPRD Banyuwangi Akan Panggil Dispora dan KONI, Evaluasi Kebijakan Pembinaan dan Prestasi Olaraga Daerah

Patemo menilai peningkatan kapasitas dermaga menjadi kebutuhan mendesak. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kendaraan besar dapat langsung terlayani tanpa harus menunggu terlalu lama di area penampungan.

“Kalau kapasitas dermaga ditingkatkan, kendaraan besar tidak perlu berputar atau menunggu terlalu lama. Ini akan mengurangi antrean yang selama ini sering terjadi di depan area penyeberangan,” katanya.

Selain mendorong penambahan kapasitas dermaga, DPRD Banyuwangi juga meminta percepatan pembangunan dan peningkatan fasilitas pelabuhan secara menyeluruh.

Langkah tersebut dinilai penting agar kemacetan serupa tidak kembali terjadi saat puncak mobilitas masyarakat, termasuk pada musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

Tak hanya infrastruktur fisik, sistem tiket penyeberangan juga menjadi perhatian. Komisi IV DPRD Banyuwangi meminta adanya penyempurnaan sistem ticketing agar proses pelayanan lebih sederhana, efektif, dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan akibat kendala administrasi.

BACA JUGA:  Wujudkan Three Zero HIV/AIDS, Komisi I DPRD Banyuwangi Tekankan Penguatan Pendampingan

Patemo juga menegaskan perlunya perhatian serius dari Kementerian Perhubungan dan pemerintah pusat terhadap konektivitas Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Menurutnya, pengembangan fasilitas di kedua pelabuhan harus dilakukan secara berimbang agar kapasitas layanan penyeberangan dapat berjalan optimal.

“Percuma kapal banyak kalau tempat sandarnya tidak cukup. Karena itu harus ada sinkronisasi antara Ketapang dan Gilimanuk, baik jumlah dermaga maupun kapasitas pelayanannya,” tegasnya.

Saat ini, Pelabuhan Ketapang memiliki sembilan dermaga, sedangkan Pelabuhan Gilimanuk hanya memiliki tujuh dermaga. Ketimpangan kapasitas tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mengurai kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus logistik maupun penumpang di lintasan penyeberangan Jawa-Bali.(ydi)

- Advertisement -spot_img
spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

INDOSNAP – Kemacetan panjang yang kembali terjadi di kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mendapat perhatian serius dari DPRD Banyuwangi. Tidak hanya melakukan pemantauan langsung, para wakil rakyat juga turun ke lapangan membagikan nasi kotak kepada para sopir truk yang terjebak antrean panjang, Rabu (25/06/2026).

Aksi sosial tersebut dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, didampingi Sekretaris Komisi IV Ratih Nur Hayati, ST, bersama anggota Dr. Zaki Al Mubarok, M.Si, Yusieni, Umi Kulsum, Suwito, serta Dra. Hj. Nunuk Sri Rahayu, M.M.

Rombongan wakil rakyat Bumi Blambangan ini menyusuri area parkir dan jalur antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang. Mereka mendatangi satu per satu sopir truk yang telah berjam-jam menunggu giliran menyebrang menuju Pulau Bali. Selain menyerahkan nasi kotak, para politisi juga berdialog langsung untuk mengetahui kondisi yang dialami para pengemudi.

Beberapa sopir mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan sejak dini hari untuk bisa masuk ke area pelabuhan. Salah seorang sopir menyebut dirinya mulai mengantri sejak pukul 03.00 WIB di buffer zone dan baru bisa masuk ke area parkir pelabuhan sekitar pukul 12.00 WIB.

BACA JUGA:  Lapas dan Kemenag Banyuwangi Jalin Sinergi Perkuat Program Pembinaan Berbasis Pesantren

Kondisi tersebut membuat Komisi IV DPRD Banyuwangi merasa prihatin. Patemo mengatakan, kemacetan yang berulang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang harus segera mendapatkan solusi konkret dari seluruh pihak terkait.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami para sopir. Mereka harus menunggu berjam-jam di tengah antrian panjang. Ini tidak boleh terus terjadi dan harus segera dicarikan jalan keluarnya,” ujar Patemo.

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian DPRD adalah keterbatasan kapasitas dermaga yang dinilai belum mampu mengakomodasi tingginya arus kendaraan, terutama kendaraan bertonase besar.

Akibat kapasitas yang terbatas, banyak kendaraan harus tertahan di buffer zone sebelum akhirnya dapat memasuki kawasan pelabuhan. Situasi tersebut kemudian memicu antrean panjang yang kerap meluber hingga ke jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang.

BACA JUGA:  Banyuwangi Kalaborasi bersama Noora Health Luncurkan Konsultasi Kesehatan Hotline via Whatsapp 24 Jam

Patemo menilai peningkatan kapasitas dermaga menjadi kebutuhan mendesak. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kendaraan besar dapat langsung terlayani tanpa harus menunggu terlalu lama di area penampungan.

“Kalau kapasitas dermaga ditingkatkan, kendaraan besar tidak perlu berputar atau menunggu terlalu lama. Ini akan mengurangi antrean yang selama ini sering terjadi di depan area penyeberangan,” katanya.

Selain mendorong penambahan kapasitas dermaga, DPRD Banyuwangi juga meminta percepatan pembangunan dan peningkatan fasilitas pelabuhan secara menyeluruh.

Langkah tersebut dinilai penting agar kemacetan serupa tidak kembali terjadi saat puncak mobilitas masyarakat, termasuk pada musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

Tak hanya infrastruktur fisik, sistem tiket penyeberangan juga menjadi perhatian. Komisi IV DPRD Banyuwangi meminta adanya penyempurnaan sistem ticketing agar proses pelayanan lebih sederhana, efektif, dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan akibat kendala administrasi.

BACA JUGA:  Isbat Nikah Terpadu di PCNU Banyuwangi Berikan Kepastian Hukum bagi 40 Pasangan

Patemo juga menegaskan perlunya perhatian serius dari Kementerian Perhubungan dan pemerintah pusat terhadap konektivitas Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Menurutnya, pengembangan fasilitas di kedua pelabuhan harus dilakukan secara berimbang agar kapasitas layanan penyeberangan dapat berjalan optimal.

“Percuma kapal banyak kalau tempat sandarnya tidak cukup. Karena itu harus ada sinkronisasi antara Ketapang dan Gilimanuk, baik jumlah dermaga maupun kapasitas pelayanannya,” tegasnya.

Saat ini, Pelabuhan Ketapang memiliki sembilan dermaga, sedangkan Pelabuhan Gilimanuk hanya memiliki tujuh dermaga. Ketimpangan kapasitas tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mengurai kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus logistik maupun penumpang di lintasan penyeberangan Jawa-Bali.(ydi)

- Advertisement -spot_img
spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini