BerandaPendidikanErosi Tebing Sungai Bedadung Capai 4 Meter Warga Jubung Jember Belum Punya...

Erosi Tebing Sungai Bedadung Capai 4 Meter Warga Jubung Jember Belum Punya Jalur Evakuasi

- Advertisement -spot_img

Penulis : Chalia Chistella Dosen Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember

INDOSNAP, JEMBER – Pemetaan partisipatif yang dilakukan tim Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, (FKIP) Universitas Jember pada Juli hingga Agustus 2026 menemukan sejumlah titik rawan banjir dan erosi di sekitar Sungai Bedadung, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember.

Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah tebing sungai di sekitar tempat pemakaman umum (TPU) warga yang mengalami erosi dan keruntuhan dengan ketinggian sekitar empat meter. Temuan tersebut diperoleh melalui survei lapangan yang memadukan pengamatan kondisi fisik sungai dengan pengetahuan masyarakat mengenai riwayat banjir dan perubahan sempadan sungai.

Survei lapangan dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai informan sekaligus penunjuk lokasi kejadian banjir dan erosi. Tim merekam titik koordinat kawasan terdampak menggunakan aplikasi Avenza Maps untuk memplot lokasi secara langsung pada citra satelit. Data tersebut kemudian digunakan sebagai bahan penyusunan peta kerawanan yang diverifikasi bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat melalui Focus Group Discussion (FGD).

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa ancaman di sekitar Sungai Bedadung tidak hanya berupa luapan air, tetapi juga perubahan kondisi tebing sungai. Beberapa titik mengalami erosi dengan ketinggian sekitar satu hingga empat meter, dengan lokasi yang dinilai paling kritis berada di sebelah selatan jembatan, dekat TPU warga. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena posisi TPU berada dekat dengan tebing sungai yang terus mengalami pengikisan dan keruntuhan material.

Kondisi erosi tersebut berkaitan dengan karakteristik Sungai Bedadung yang memiliki alur berkelok pada kawasan yang dipetakan. Lebar alur sungai di sekitar kawasan rawan banjir tercatat sekitar 30 meter, sementara proses erosi dan sedimentasi berlangsung pada bagian alur yang berbeda. Ketika debit meningkat akibat hujan berintensitas tinggi, energi aliran juga meningkat sehingga kemampuan sungai mengikis tebing dan mengangkut material menjadi lebih besar.

Selain kondisi tebing, pemetaan menemukan adanya material yang terbawa aliran ketika banjir terjadi. Berdasarkan keterangan masyarakat, batang pohon dan rumpun bambu dari bagian hulu terbawa arus Sungai Bedadung dan sebagian tersangkut pada struktur jembatan. Material tersebut meningkatkan hambatan aliran di sekitar jembatan dan berkontribusi terhadap tertahannya air hingga akhirnya jembatan roboh pada 15 Desember 2025.

BACA JUGA:  Perkuliahan ISI Surakarta Resmi Dibuka di Banyuwangi, Bupati Ipuk: Wujudkan Mimpi Para Seniman

Jembatan yang roboh tersebut memiliki fungsi penting bagi mobilitas masyarakat di wilayah sekitar Sungai Bedadung. Jembatan menjadi penghubung antara Dusun Darungan Lor dan Darungan Selatan serta menjadi salah satu akses masyarakat dari wilayah Kecamatan Ajung, Sukorambi dan Rambipuji. Setelah jembatan roboh, sebagian warga yang bekerja dan bersekolah di wilayah Darungan Lor harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer lebih jauh.

Dampak banjir juga ditemukan pada lahan produktif masyarakat di sekitar sungai. Luapan pada kejadian Desember 2025 lebih banyak berdampak terhadap lahan pertanian dan perkebunan dibandingkan kawasan permukiman. Genangan dan material sedimen yang terbawa aliran menyebabkan perubahan pada sebagian lahan serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar sungai.

Kondisi fisik pascabanjir juga meninggalkan sejumlah tanda yang dapat digunakan untuk mengenali jangkauan luapan air. Tim menemukan endapan pasir di bagian sungai tepat di bawah jembatan serta lapisan pasir halus pada lahan di sekitar sungai. Sisa sampah yang tersangkut pada dahan pohon kopi dan rumpun bambu juga menjadi bukti lapangan mengenai jangkauan luapan ketika banjir terjadi.

Temuan lapangan tersebut kemudian dibandingkan dengan pengetahuan masyarakat mengenai pola banjir Sungai Bedadung. Kepala Dusun Arief Sunatmanto menyampaikan bahwa masyarakat memiliki pengalaman mengenai kejadian banjir yang menurut persepsi warga memiliki interval sekitar 20 tahun. Namun, laporan menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman masyarakat dan belum dapat diperlakukan sebagai periode ulang banjir secara hidrologis tanpa dukungan data debit dan curah hujan jangka panjang.

Pengetahuan masyarakat mengenai kondisi sungai ternyata belum sepenuhnya diikuti dengan kesiapsiagaan yang terstruktur. Warga telah mengenali peningkatan debit Sungai Bedadung sebagai salah satu tanda awal yang berpotensi diikuti banjir, tetapi sebagian masyarakat masih memilih bertahan di rumah ketika banjir terjadi. Di sisi lain, jalur evakuasi sebagai salah satu instrumen penting dalam kesiapsiagaan masyarakat belum tersedia.

BACA JUGA:  Ratusan Penyair dan Penulis Indonesia dan Asia Tenggara Ikuti Jambore Sastra di Banyuwangi

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemetaan tidak berhenti pada pengumpulan titik rawan. Dalam FGD, tim pengabdian bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat melakukan verifikasi terhadap peta kawasan rawan banjir dan erosi. Forum tersebut juga digunakan untuk membahas rencana jalur evakuasi dan titik kumpul yang dapat disepakati secara partisipatif.

Upaya kesiapsiagaan juga diarahkan pada lingkungan sekolah melalui sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kegiatan tersebut melibatkan siswa dan guru dengan materi mengenai peta kerawanan, tanda-tanda awal luapan Sungai Bedadung, dan simulasi evakuasi mandiri ketika bencana terjadi pada jam sekolah. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman kebencanaan tidak hanya kepada masyarakat umum, tetapi juga kepada satuan pendidikan di wilayah terdampak.

Hasil pemetaan juga menghasilkan rekomendasi untuk pengelolaan kawasan sempadan Sungai Bedadung. Pemeliharaan vegetasi tetap diperlukan pada bagian tebing yang masih stabil, tetapi pengelolaannya perlu memperhatikan lokasi dan jenis vegetasi karena kayu, pohon, dan rumpun bambu berpotensi menjadi material hanyutan ketika debit sungai meningkat. Pemeriksaan kondisi alur dan kawasan sekitar jembatan sebelum periode hujan dengan intensitas tinggi juga direkomendasikan untuk mengurangi risiko material menyumbat aliran.

Penanganan tebing yang mengalami erosi juga perlu dibedakan berdasarkan tingkat kerusakannya. Pada bagian tebing yang masih relatif stabil, akar wangi (Chrysopogon zizanioides) dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan konservasi karena sistem perakarannya berpotensi membantu memperkuat tanah dan mengurangi erosi permukaan. Sementara itu, lokasi dengan erosi berat, terutama di sekitar TPU dengan erosi mencapai sekitar empat meter, memerlukan asesmen teknis sebelum ditentukan apakah revegetasi perlu dikombinasikan dengan struktur pengendali erosi atau perlindungan tebing lainnya.

BACA JUGA:  Progres Pembangunan Capai 88, Persen, Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi Segera Tempati Gedung Baru

Rehabilitasi jembatan juga menjadi bagian penting dari penanganan karena infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat. Pembangunan atau perbaikan jembatan perlu mempertimbangkan karakteristik alur Sungai Bedadung serta potensi material berupa kayu, pohon, dan rumpun bambu yang dapat terbawa arus dan tersangkut pada konstruksi. Dengan demikian, penanganan infrastruktur tidak hanya memperhatikan kekuatan konstruksi, tetapi juga kondisi lingkungan sungai di sekitarnya.

Peta hasil pemetaan partisipatif selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana di Desa Jubung. Pemerintah desa direkomendasikan memanfaatkan informasi tersebut untuk menentukan lokasi prioritas penanganan, menyusun jalur evakuasi dan titik kumpul, serta memberikan informasi kebencanaan kepada masyarakat. Data spasial juga perlu diperbarui secara berkala setelah terjadi banjir atau perubahan kondisi fisik Sungai Bedadung agar tetap sesuai dengan kondisi lapangan.

Koordinasi antra lembaga menjadi bagian lain yang diperlukan dalam penanganan risiko di kawasan tersebut. Pemerintah Desa Jubung perlu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember, BPBD, perguruan tinggi, dan instansi teknis terkait untuk pemantauan sungai, penanganan kondisi darurat, rehabilitasi infrastruktur, serta pengelolaan lokasi erosi kritis. Langkah tersebut diperlukan karena dampak banjir dapat berlangsung lebih lama daripada kejadian luapannya, sebagaimana terlihat dari terganggunya akses masyarakat setelah jembatan roboh.

Pemetaan yang dilakukan pada Juli hingga Agustus 2026 tersebut memperlihatkan bahwa risiko bencana di Desa Jubung memiliki beberapa aspek yang saling berkaitan. Luapan Sungai Bedadung, erosi tebing, material hanyutan dari hulu, kerusakan infrastruktur, gangguan akses masyarakat, serta belum tersedianya jalur evakuasi menjadi bagian dari persoalan yang ditemukan di lapangan. Hasil pemetaan kemudian memberikan dasar spasial bagi pemerintah dan masyarakat untuk menentukan lokasi prioritas penanganan serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini