INDOSNAP – Pusat Volkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM telah menurunkan status aktifitas Gunung Ijen dari sebelumnya waspada (Level II) menjadi normal (Level I). Penurunan status tertuang dalam surat yang dikeluarkan Badan Geologi bernomor 1072.Lap/GL.03/BGV./2024.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Ijen, Ahmad Subhan menyampaikan, berdasar hasil pengamatan visual yang dilaksanakan sejak periode 1 hingga 12 Agustus lalu, air kawah berwarna toska. Bahkan, sudah tidak tampak bualan gas di tengah danau kawah.
“Serta tidak nampak uap putih diatas permukaan danau. Hasil pengukuran suhu air kawah di permukaan 43,4°C menggunakan termokopel, sedangkan menggunakan termogun 42,2°C,” katanya.
Selanjutnya dari pantauan terhadap asap solfatara menunjukkan warna putih tebal dengan tekanan lemah hingga sedang. Sementara bau gas belerang tercium namun tidak terlalu menyengat.
Dari sisi instrumental, pada periode yang sama, terekam tujuh kali gempa hembusan, sekali tremor nonrarmonik, 60 kali gempa vulkanik dangkal, tiga kali gempa vulkanik dalam, 16 kali gempa tektonik jauh, sebelas kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0.5-6 mm, dominan 1 mm.
Sejak tanggal 23 Juli, rentang frekuensi kegempaan mulai mengecil, dominan antara 24 Hz, ditandai oleh menurunnya kejadian atau jumlah kegempaan secara fluktuatif dan menurunnya amplitudo tremor.
” Setelah tanggal 13 Juli 2024, grafik RSAM menunjukkan pola menurun yang fluktuatif dan mendekati normal. Nilai variasi kecepatan seismik berada pada nilai yg positif dengan fluktuasi yg besar mengindikasikan tekanan pada tubuh gunungapi sudah berkurang,” jelasnya.
Berdasarkan hasil evaluasi visual dan instrumen itulah, kata dia, tingkat aktivitas Gunung Ijen diturunkan dari waspada menjadi normal. Namun demikian, pihaknya mengimbau agar masyarakat disekitar Gunung Ijen dan pengunjung tidak mendekati bibir kawah maupun turun dan mendekati dasar kawah.
Badan Geologi juga melarang warga atau wisatawan menginap di Kawah Ijen dalam radius 500 meter. Masyarakat yang bertempat tinggal di sepanjang aliran Sungai Banyu Pait juga diminta agar selalu waspada terhadap potensi ancaman aliran gas vulkanik yang berbahaya.
“Jika tercium bau gas yang menyengat dihimbau agar menggunakan masker penutup alat pernapasan,” jelasnya.(ydi)






