INDOSNAP – Diluncurkan pada 2022 lalu, Program Sekolah Rawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu) hingga saat ini masih tetap bergulir. Bahkan, jumlah sekolah yang terlibat dalam program besutan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan ini semakin banyak.
Sejalan dengan itu, cakupan wilayah aliran sungai yang dirawat pun juga semakin luas. Selain itu, terdapat pula inovasi aplikasi E-Monitoring Sekardadu yang memungkinkan pihak sekolah melaporkan setiap kegiatan dalam rangka merawat aliran sungai.
Kepala DPU Pengairan Guntur Priambodo melalui Kepala Bidang (Kabid) Bina Manfaat dan Kemitraan Doni Arsilo Sofyan menjelaskan, tahun ini cakupan sekolah yang dijadikan sasaran memang diperluas.
Sekolah dengan radius 2 kilometer dari sungai atau saluran tahun ini dapat dilibatkan juga dalam Sekardadu. Sehingga, jumlah sekolah yang berpartisipasi juga semakin banyak.
Sepanjang tahun ini saja, sebanyak 159 lembaga pendidikan sudah terlibat dalam program tersebut. Rinciannya, terdiri atas 121 SD/sederajat, 28 SMP/sederajat, dan 10 SMA/sederajat di wilayah Kabupaten The Sunrise of Java. Tak hanya itu, lembaga pendidikan di jenjang perguruan tinggi pun juga terlibat.
“Para siswa yang terlibat dalam Sekardadu bukan hanya mendapatkan teori sosialisasi, tapi juga kami ajak untuk praktik langsung didampingi oleh petugas dari Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) di masing-masing wilayah,” jelasnya.
Salah satunya yang dilakukan puluhan siswa MI Salafiyah 2 Setail pada Selasa (13/11) pekan lalu dan SD Negeri 2 Gambiran pada Jumat (1/11) awal bulan ini.
Mereka antusias membersihkan saluran Tugung 2 dan Saluran B Setail. Tak merasa jijik atau takut kotor, suasana ceria justru yang nampak ketika mereka berbondong-bondong memunguti sampah yang mengotori saluran didampingi petugas dari Korsda Genteng.
Tak hanya itu, puluhan siswa dari SD Islam Kebunrejo dan MI An-Nidhom juga merasakan hal yang sama pada Sabtu (26/10) akhir bulan lalu. Tak hanya membersihkan aliran di saluran sekunder Wringinrejo, mereka juga diajak untuk melepaskan bibit ikan ke sungai.
Doni menuturkan, kegiatan Sekardadu memang terus dikreasikan. Bekerja sama dengan berbagai pihak, para siswa tak hanya diajak membersihkan sungai, tetapi juga diberi wawasan dan praktik untuk menjaga lingkungan secara umum. Beberapa di antaranya adalah penanaman pohon, pembuatan pupuk organik, bahkan sampai menyasar ke aspek pariwisata.
“Tahun ini target kami bukan hanya kebersihan lingkungan saja, tetapi juga mulai mengarah kepada pengembangan potensi wisata,” tuturnya.
Sebagai contoh, Sekardadu yang dilakukan oleh siswa SDN 2 Sumberbulu, Kecamatan Songgon pada Kamis (24/10) lalu, dengan dipandu Korsda Singojuruh.
Mereka membersihkan saluran Pembagi Air Sumber Rejeng 1 yang berada di kawasan wisata pemandian Sumberbulu. Tak hanya membersihkan saluran, para siswa juga diajak praktik menanam pohon, membuat vertical garden dan pupuk kompos, dan memilah jenis-jenis sampah.
Doni menambahkan, untuk melihat efektivitas Sekardadu 2024 ini, pihaknya menggunakan digitalisasi monitoring dengan menggunakan aplikasi E-Monitoring Sekardadu.
Aplikasi tersebut berfungsi untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Sekardadu yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan.
“Mereka dapat melaporkan pelaksanaan Sekardadu melalui aplikasi ini yang akan dimonitor secara berkala,” imbuhnya.
Sebelumnya, kata Doni, para admin di setiap Korsda sudah dibekali cara penggunaan aplikasi tersebut. Sehingga, selanjutnya tinggal disosialisasikan ke lembaga pendidikan pada saat pelaksanaan program yang masuk top 30 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Jatim pada 2023 ini.
“Harapannya sekolah dapat melaporkan segala kegiatan berkaitan dengan menjaga kelestarian sumber daya air yang sejalan dengan Sekardadu melalui aplikasi tersebut. Dan yang jelas, selalu memastikan kondisi saluran yang menjadi zonasinya terawat dengan baik,” pungkasnya. (adw)






